Dalam hening aku terduduk di bangku kayu dalam sebuah ruangan kosong bercat putih polos tanpa warna, bersih. Hanya aku satu-satunya pewarna putih tersebut.
Detik, menit, jam, dan hari terus bergulir, tak juga aku sanggup beranjak dari tempat semula. Bahkan untuk menggerakkan ujung kuku pun tak sanggup aku.
Agresi kebosanan pun mendera, memacu setiap panca indra untuk terus meronta. Tapi ada daya, jeruji maya mengikat erat seluruh otot-otot tubuhku.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terjadi dalam tubuhku. Menghancurkan pertahanan grendel tak nampak tersebut, sekejap seluruh otot tubuhku menggeliat keluar. Entah darimana ledakan tersebut berasal. Tak peduli aku, bebas yang penting.
Kini, ruangan putih berganti dengan tembok2 berjelaga hitam. Sebuah pintu yang tak pernah kulihat sebelumnya tersibak membuka. Sebuah ruangan putih lainnya terlihat. Aku yakin aku harus kesana.
Pelan, ku paksa kaki yang telah lama tak berfungsi ini melangkah. Terseret, pelan.. Dan tak pasti. Jelaga hitam kini menutup sekujur tubuhku, tak peduli aku.. Yang terpenting, aku harus bisa menuju ruangan itu.
Singkat cerita..sampailah aku ditempat tersebut. Sebuah ruangan putih bersih yang entah kenapa kurasa lebih indah dari ruangan dibelakangku.
Satu jejakan pertama kulakukan, jelaga hitam menempel, tak peduli aku.. Dan langkah-langkah selanjutnya terus kulakukan. Jejak hitam kini hampir memunuhi, tak elok sungguh.. Dan agresi bosan kembali menyeruak.. Lumpuh kembali.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar